DAERAH HIBURAN & GAYA HIDUP

Mural dan Aksara Batak, Dua Kelas Kreatif Pra Festival Literasi Balige Digelar

Benhillpos.com | TOBA – Hari ini, Jumat (22/7) Festival Literasi Balige menggelar dua kegiatan di kelas kreatif, yaitu Kelas Melukis Mural dan Kelas Menulis Aksara Batak.

Kelas Melukis Mural memasuki hari ketiga. Setelah membahas tema dan gambar yang akan dilukis di dinding, kelima peserta kelas mural mulai menerapkan sketsa dan menentukan warna.

Pengajar kelas Mural, Adi Syahputra mengaku gembira melihat antusias kelima peserta kelas mural yang sudah mencoba bereksperimen dengan warna dan mengaplikasikannya di dinding kelas gedung Dinas Perpustakaan Kabupaten Toba. Sketsa konten utama mural sudah terwujud di dinding dengan salah satu motif rumah Batak.

“Saya yakin pekerjaan ini selesai akhir pekan ini,” ujar Adi.

Sementara itu berlokasi di Museum Batak , kelas Menulis Aksara Batak baru mulai digelar hari ini. Stevanie Silalahi, filolog lulusan Sastra Batak dari USU dan pengajar kelas ini mengatakan, aksara atau surat (bukan pengertian surat dalam bahasa Indonesia) Batak terbagi dalam 3 golongan, yaitu Angkola/Mandailing, Simalungun dan Karo/Pakpak. Sementara bentuk aksara Batak terdiri dari 19 induk surat (huruf utama) -ahanarata mangalapa sada gaja i bawa ya u- dan anak surat yaitu a, e, i, o, u, tang dan t.

“Pada kitab laklak, aksara Batak tidak mengenal spasi. Jarak dan ukuran aksara pada umumnya sama. Beberapa kesalahan menulis, yaitu bunyi yang tidak sama, mungkin disebabkan dulu tidak ada penghapus jadi bila ada salah tidak mungkin dihapus. Bisa juga karena cuaca, pewarna alami pada aksara terhapus,” jelas Stevanie.

Masyarakat Batak zaman dulu menulis aksara mereka di atas kayu ulim yang solid, dan sebagai pena adalah kayu yang ditajamkan, baru pada bagian ujung yang tajam dicelupkan ke tinta yang terbuat dari warna alami dahan pohon.

BERITA TERKAIT :  Warga Desa Kedungwaringin Sambut HUT Republik Indonesia ke 77 Dengan Meriah

“Aksara Batak pertama kali dikumpulkan oleh ahli bahasa Van Der Tuuk dengan cara duduk mengobrol di lapo dan mencatat apa yang didengar dan dipelajarinya dari mereka yang mengobrol di lapo,” tutur Stevanie.

Dari paparan Stevanie diketahui, ternyata sejak dulu masyarakat Batak suka berliterasi, berdialektika tentang satu isu dan membicarakannya hingga tuntas.

Peserta kelas juga diberi materi menulis dalam aksara Batak dan mencoba mempraktekkannya.

Kedua kelas dimulai pukul 09.00 Wib dan dijadwalkan selesai pukul 15.00 Wib. Khusus kelas Mural, selesai pada pukul 18.00 Wib. Kelas Mural dan Kelas Aksara Batak masih akan berlangsung sampai besok dengan jadwal yang sama. ( DNM / Red )

Bagikan :

Related posts

Gubernur Ansar Dorong Seluruh UMKM Kepri Tersertifikasi Halal

Daniel Manurung

Di Duga Oknum Kepala Desa Air klinsar Nilap dan Mar Up Belanja BarangĀ  Dari Dana Desa, Untuk Bengkel motor yang berupa satu setu set kunci ,konfresor dan AlatĀ  Pembuka Ban 2018-2019

Feri Indra Leki

Pemkot Lubuklinggau Raih Opini WTP ke-11 Secara Berturut-turut

Daniel Manurung

Leave a Comment

error: Content is protected !!