Benhillpos.com | DAIRI – Praktik kotor di dunia pendidikan Dairi terbongkar. Puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi, termasuk BKPRMI, GMNI, HMI, KAMMI, dan IPNU, turun ke jalan pada Senin (15/09/2025) untuk memprotes dugaan pungutan liar (pungli) di SD Plus Ark Sidikalang. Mereka menuding sekolah tersebut melakukan bisnis terselubung dengan menjual buku pelajaran, ironisnya di saat sekolah menerima dana BOS ratusan juta.
Perwakilan mahasiswa, Andi Silalahi, tidak ragu melontarkan kritik pedas. Ia menyoroti inkonsistensi antara dana BOS yang diterima sekolah dengan beban biaya yang ditanggung orang tua.
“Dalam undang-undang jelas dilarang menjual buku. Tapi di sekolah ini, orang tua dipaksa membayar hingga Rp1 juta. Apa fungsi dana BOS yang mencapai ratusan juta itu kalau bukan untuk membiayai kebutuhan siswa?” teriak Andi. “Ini bukan lagi soal pendidikan, ini sudah jadi ladang bisnis!”
Mahasiswa juga mempertanyakan mengapa buku bekas dari kakak kelas dilarang, padahal bisa menghemat biaya. “Motifnya jelas, tujuannya bukan mencerdaskan, tapi mencari untung,” tegas Andi.
Aksi mahasiswa ini memaksa Bupati Dairi, Vikner Sinaga, turun tangan. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), Bupati menjanjikan audit total dan tindakan tegas terhadap pihak sekolah.
“Saya pastikan, praktik seperti itu tidak boleh lagi terjadi. Kita akan audit menyeluruh dan pastikan dunia pendidikan tidak dicemari oleh motif bisnis,” ujar Bupati.
Namun, mahasiswa tetap waspada. Pengalaman di daerah lain menunjukkan bahwa janji-janji serupa seringkali hanya sekadar ucapan manis di depan publik. Mereka mengancam akan kembali melakukan aksi dengan massa yang lebih besar jika tidak ada tindak lanjut nyata.
Kasus ini menjadi pukulan telak bagi kredibilitas pendidikan di Dairi. Masyarakat dan mahasiswa kini menantikan, apakah janji Bupati akan benar-benar terwujud, atau hanya menjadi angin lalu yang menguap begitu saja. ( JS )
















