Benhillpos.com | DAIRI – Ratusan warga Desa Parbuluan VI, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, terlibat bentrokan sengit di depan Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Dairi, Rabu (12/11/2025).
Aksi massa yang datang berbondong-bondong menggunakan mobil pikap L300 ini dipicu oleh penangkapan ketua mereka, PS, yang dilakukan polisi pagi harinya saat PS hendak mengantar anaknya bersekolah.
Aksi yang awalnya merupakan orasi tuntutan damai dengan cepat berubah menjadi kericuhan brutal. Massa yang dipenuhi emosi mendatangi Mapolres Dairi di Jalan Sisingamangaraja, Sidikalang, dengan tujuan utama memastikan kondisi PS dan mencegah dugaan kekerasan di dalam tahanan. Rabu (12/11/2025).
Ketegangan memuncak tak lama setelah warga turun dari kendaraan. Menurut Pantauan di lapangan, emosi massa yang membara membuat sejumlah benda keras, seperti botol, air cabai, pasir, hingga batu, berterbangan ke arah petugas keamanan. Kericuhan tak terhindarkan dan memicu tindakan anarkis.
Pihak kepolisian segera mengambil tindakan tegas untuk meredam kericuhan. Aksi saling dorong dan pemaksaan pembubaran massa membuat situasi semakin tidak terkendali. Akibat bentrokan tersebut, dua personil Polres Dairi dilaporkan mengalami luka-luka. Di sisi lain, beberapa warga demonstran juga mengalami luka-luka saat dipaksa menyerah oleh polisi.
Penangkapan terhadap mereka yang diduga menjadi provokator dan pelaku anarkisme. Warga yang terlibat dalam aksi anarkis tersebut telah diamankan oleh pihak kepolisian dan akan menjalani proses hukum lebih lanjut.
Trauma Anak dan Pernyataan Kapolres
Dalam orasi yang sempat dilayangkan, warga juga menyoroti kondisi psikologis anak PS yang diduga mengalami trauma mendalam. Penangkapan yang dilakukan saat PS hendak mengantar anaknya sekolah dikhawatirkan mengganggu mental sang anak. Warga menyebutkan bahwa sang anak tidak tahu menahu mengenai kericuhan yang terjadi di desa mereka.
Menanggapi situasi yang sangat tidak stabil, Kapolres Dairi AKBP Otniel Siahaan belum dapat memberikan keterangan rinci.
“Nanti ya, situasi belum meredam, ke humas dulu ya,” ujar AKBP Otniel Siahaan.
Penangkapan PS, yang sebelumnya diduga menjadi penghasut perusakan aset PT Gunung Raya Utama Timber Industries (Gruti), kini memicu konflik baru yang melibatkan warga dan aparat keamanan. ( JS )
















