Benhillpos.com | SUMENEP – Gelombang kemarahan publik di Sumenep semakin memuncak. Pasca demonstrasi JASTRA menuntut penertiban, kenyataan di lapangan justru memperlihatkan ironi yang telanjang: tempat hiburan malam yang diduga sarang maksiat dan peredaran minuman keras tetap beroperasi seolah kebal hukum.
Operasi yang digelar Polres Sumenep dan Satpol PP dianggap hanya sandiwara kosmetik; aparat ramai-ramai datang, berpose di depan kamera, lalu pergi tanpa penindakan nyata. Pantauan hari ini, 16 Februari 2026, memperlihatkan aktivitas terbuka: LC dan wanita penghibur berdatangan sejak siang hingga malam, menemani pria hidung belang di lokasi yang selama ini disebut warga sebagai ladang maksiat terselubung. Semua berlangsung terang-terangan, seolah operasi aparat hanyalah formalitas belaka.
Nama-nama tempat hiburan kembali mencuat, mulai dari Mr. Ball, JBL, Harmoni, Potree, Lotus Cafe, hingga Warung Mami di Talangan. Ironisnya, Warung Mami yang disebut menjadi agen peredaran miras sama sekali tidak tersentuh operasi.
Fenomena ini memperkuat persepsi publik bahwa razia miras hanyalah trik untuk meredam kritik, bukan upaya serius menegakkan hukum. Sorotan tajam jatuh pada Mr. Ball, yang menurut laporan warga diduga menjadi pusat dugem favorit. Anehnya, setiap operasi datang, lokasi tersebut mendadak “bersih”, seolah tidak pernah ada aktivitas.
Warga pun mempertanyakan apakah aparat benar-benar tidak melihat atau sengaja menutup mata. Banyak yang menyebut situasi ini lucu tapi menyakitkan karena fakta di lapangan selalu bertolak belakang dengan laporan resmi.
Di tengah keganjilan ini, muncul dugaan serius adanya setoran besar ke aparat sehingga penegakan hukum terkesan tumpul ke atas dan tajam ke bawah.
Meski belum terbukti, isu ini semakin kuat karena minimnya tindakan tegas terhadap lokasi-lokasi yang berulang kali dipersoalkan publik. Direktur JASTRA, Hasyim Khu, menegaskan bahwa anak-anak muda diracuni minuman keras dan pesta malam, sementara tempat maksiat dibiarkan nyaman. Aparat seolah takut atau tidak berdaya. Jika terus diam, mereka siap turun langsung bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama.
JASTRA menegaskan, aksi mereka tidak berhenti pada satu demonstrasi. Rencana aksi berjenjang mulai dari Kantor Bupati hingga Mapolres Sumenep disebut sebagai operasi moral, bukan sekadar simbolik. Banyak tempat hiburan yang seharusnya tutup pukul 02.00 WIB justru beroperasi hingga pagi bahkan siang hari, digunakan untuk pesta miras dan aktivitas terlarang lainnya, mencerminkan lemahnya pengawasan dan mandulnya penegakan Perda Ketertiban Umum.
Menanggapi sorotan ini, Kabid Ketenteraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Sumenep, Fajar, mengakui sebagian besar tempat hiburan malam memang tidak berizin, dan pernyataan itu menjadi dasar penertiban ke depan. Namun bagi JASTRA, pernyataan tersebut tidak lagi cukup. Mereka menuntut penutupan total tempat hiburan ilegal, razia rutin tanpa tebang pilih, dan pengusutan serius dugaan peredaran miras. Persoalan hiburan malam di Sumenep kini menjadi ujian terbuka bagi aparat. Publik menunggu apakah hukum ditegakkan tanpa pandang bulu atau terus kalah oleh lampu remang, kepentingan, dan dugaan perlindungan oknum tertentu. JASTRA menegaskan, perjuangan mereka tidak akan berhenti sampai negara benar-benar hadir dan hukum ditegakkan secara adil. ( ** / HS )
















