DAERAH  

Bukan Sawah, Bukan Kolam: Jalan Sidikalang Disulap Jadi Panggung Kritik

Oplus_16908288

Benhillpos.com | Sidikalang – Di tengah denyut lalu lintas yang tersendat oleh lubang-lubang menganga, sekelompok pemuda – yang sebagian besar merupakan mahasiswa – memilih cara tak lazim untuk menyuarakan kegelisahan.

Mereka tidak sekadar berdiri membawa poster, melainkan menjadikan jalan rusak di kawasan Jalan Pakpak, Kecamatan Sidikalang, sebagai panggung kritik yang sarat makna.

Aksi itu berlangsung pada Senin (27/04/2026), ketika para pemuda turun langsung ke ruas jalan yang dipenuhi genangan air berlumpur.

Dengan tangan-tangan yang membawa harap sekaligus sindiran, mereka menanam bibit jagung di lubang-lubang aspal yang rusak.

Sebuah gestur simbolik – seolah menyatakan bahwa jalan tersebut telah lebih layak dijadikan ladang daripada fasilitas publik yang seharusnya menopang mobilitas masyarakat.

Tak berhenti di situ, mereka juga membawa alat pancing, lengkap dengan umpan ikan yang sengaja diikat.

Dengan penuh ironi, para pemuda tersebut memancing di genangan air yang terbentuk di badan jalan.

Pemandangan ini bukan sekadar aksi teatrikal, melainkan kritik sosial yang telanjang, ketika infrastruktur dibiarkan rusak, ruang publik kehilangan fungsi dan maknanya.

Aksi ini kemudian diunggah ke media sosial Facebook dan dengan cepat menyita perhatian publik.

Warganet pun ramai memberikan tanggapan, sebagian besar bernada kritik terhadap Pemerintah Kabupaten Dairi.

“Sangat disayangkan, sudah lama jalan ini dibiarkan. Keselamatan warga harus menjadi prioritas,” tulis salah satu akun.

Sementara itu, komentar lain menyuarakan dukungan terhadap aksi tersebut, “Semangat para pemuda, keberanian seperti ini harus terus hidup untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.”

Ketua GMNI Kabupaten Dairi, Andi Silalahi, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar sensasi, melainkan bentuk kritik keras terhadap pemangku kebijakan.

Ia menyebut gerakan “tanam jagung” dan “mancing mania” tersebut sebagai simbol kepedulian terhadap keselamatan masyarakat sekaligus ekspresi kegelisahan publik atas kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki.

“Gerakan ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap keselamatan masyarakat. Jalan yang berlubang dan tergenang air sangat membahayakan pengguna. Harapan kami, Pemerintah Kabupaten Dairi dapat memprioritaskan persoalan ini,” ujarnya.

Aksi tersebut menjadi cermin dari kegelisahan kolektif yang selama ini terpendam.

Ketika kritik tak lagi cukup disampaikan lewat kata, para pemuda memilih bahasa simbol – menanam, memancing, dan memperlihatkan absurditas kondisi yang ada.

Pada akhirnya, jalan bukan sekadar bentangan aspal. Ia adalah urat nadi kehidupan masyarakat.

Dan ketika urat itu rusak, maka suara-suara seperti inilah yang akan muncul – menggugat, mengingatkan, dan menuntut perubahan. (JS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *