Benhillpos.com | SILAEN, TOBA – Gereja HKBP ini berdiri gagah di lereng gunung panindii, di bawah batu paningkir-ningkiran yang masih tertutup kabut tipis. Dahulu gereja HKBP ini diikuti cukup banyak jemaat, namun beberapa sudah merantau ke timur, dan lainnya terpisah pada masa parbolatan HKBP, praktis tersisa hanya 5 kepala keluarga jemaat gereja.
Desain arsitektur sederhana dengan cat kuning berdasar putih yang tampak mulai mengelupas. Atap seng sudah mulai tampak coklat gelap, sinyal taklama lagi harus berganti. Interior ruangan dengan kursi dari kayu olahan papan berbaris rapi. Sebuah papan susunan acara ditempel disisi kiri di samping sebuah jendela yang mengarah ke view panorama danau toba yang tampak anggun dari Desa Panindii.
Pengurus Gereja Guru Huria Charles Hutagaol mengatakan setiap bulan pendeta melayani disini. Minimnya jemaat takmengurangi rasa khyusuk dalam memuji Tuhan. Sama seperti domba yang terbaring di rumput hijau, demikian kasih Tuhan kepada umat-Nya yang senantiasa memujinya.
Hari ini, Minggu, 14 Desember 2025, Pemerintah Kabupaten Toba datang menyambangi Gereja HKBP Sinta Nauli Dusun III Partabangan Desa Parnidii, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba. Merasakan atmosfer kebaktian pada gereja kecil dan memberikan perhatian serta bersama-sama memuji Tuhan dengan jemaat.
Para pejabat Pemerintah Kabupaten Toba yang hadir mengikuti kebaktian terdiri dari Kepala Dinas Sosial, PLT. Kepala Dinas Pertanian, Kasatpol PP beserta staf, Kabag Tapem dan Kerjasama, Kabag Perekonomian, Kabag Kesejahteraan Rakyat, Camat Silaen beserta Kasubbag Umpeg Kecamatan Silaen, Budayawan M. Tansiswo Siagian, Harapan Sibarani mewakili Batak Center/Formasi, dan jemaat HKBP Sinta Nauli.
Suasana Natal mulai menyeruak dari interior sederhana di depan, di atas altar, seolah sama dengan makna dan pesan bahwa Yesus juga lahir bukan di gedung mewah penuh pernak-pernik mahal. Tapi di sebuah tempat yang kotor, di palungan sebuah kandang domba, namun bisa menyelamatkan seluruh orang berdosa. Kelak akan lahir sesuatu hal besar di gereja ini.
Para peserta kebaktian merasakan kasih dan kedamaian dalam mengikuti kebaktian. Benar-benar khikmat, menyentuh ke dasar hati para pejabat yang hadir. Mengetuk rasa peduli yang dalam. Gereja HKBP Sinta Nauli memang kecil, tapi kasih dan kedamaian mampu meresap ke setiap hati. Membuat suasana kebaktian sangat hening, seperti jika sebuah jarum jatuh akan terdengar, desau angin, decit jendela tertutup, gesekan kaki, detak jam dingding serta suara burung dari luar merdu bak pujian kepada Tuhan. Suara – suara itu terdengar ketika khotbah terjeda sebentar. Sungguh kebaktian yang hening dan khikmat.
Panurirang Mika 7 ayat 7 – 13 adalah khotbah yang bawakan oleh Guru Huria, berharap pada Allah yang menyelamatkan. Guru Huria memaparkan kondisi gereja dan memberikan harapan kepada jemaat. Merendahkan hati dan senantiasa bersukacita dalam mengerjakan pekerjaan. Gereja kecil ini sungguh sangat bahagia melihat kedatangan para pimpinan dari Kabupaten Toba. “Sungguh besar kasih Tuhan ke kehidupan dan gereja kecil kita” ungkap Guru Huria dalam khotbahnya.
HKBP adalah Gereja suku terbesar didunia, dan 13 jiwa menyumbang ke 4.500.000 jiwa ruas HKBP serta menyumbang 1 nama gereja untuk 3.747 gereja HKBP di daftar gereja almanak HKBP. Meski kecil, HKBP Sinta Nauli tetap berjalan apa adanya, dengan kondisi gereja sangat sederhana tanpa sepetakpun keramik, tanpa sekepingpun kaca, namun kasih dan kebesaran serta kerendahan hati membuncah dari para ruasnya.
Maranatha, Ro, O Tuhan, Amen Sai Tibu Ma Ro. ( Red )
















