Jelang Dies Natalis ke-70, Perjalanan Pengabdian Eks Kasek BTB Asal Pangaribuan di BTB  

Oplus_16908288

Benhillpos.com | BALIGE – Seorang alumni, guru dan kepala sekolah di BTB bernama Asal Pangaribuan bercerita soal perjuangan awal hingga pensiun di SMA Bintang Timur Balige (BTB). Ia kerap disapa Pak AP. Mengawali karir sebagai tenaga pendidik ia mulai di BTB pada tahun 1969.

Sebelumnya, ia mengenyam pendidikan di BTB tahun 1964. 5 tahun kemudian, ia menjadi guru di sana. Hatinya telah tertambat di BTB hingga pensiun pada awal tahun 2005.

Ia memulai kisahnya sebagai pendidik saat sekolah memiliki fasilitas sederhana. Sekolah tersebut adalah bagian dari misi kekatolikan di Tano Batak. Sekolah ini dikelola oleh para Frater CMM. Misionaris dari Belanda telah mulai menanam semangat kekatolikan bagi kaum muda yang mengenyam pendidikan di BTB tersebut.

70 tahu silam, sekolah ini sudah berdiri dan menamatkan ribuan pelajar yang saat ini telah menduduki berbagi jabatan di pemerintahan, perusahaan swasta, dan dunia pendidikan. Sebagian dari mereka juga memilih profesi lainnya.

Pria yang menghabiskan masa kecilnya di masa pendudukan jepang ini benar-benar menikmati panggilannya sebagai guru.

Jelang Dies Natalis ke-70 BTB, ia kembali dibawa pada ingatan masa silamnya sebagai pendidik di BTB. Ia diminta panitia sebagai penasihat.

“Setelah tamat dari BTB ini pada tahun 1964, saya menjadi guru di sini pada tahun 1969. Saat itu, kondisi sekolah masih relatif sederhana, termasuk juga ketersediaan SDM-nya. Saat itu, selain dari sekitar Balige ini, pelajar yang datang lebih banyak dari luar Balige,” tutur Asal Pangaribuan, Selasa (11/8/2026).

Sebagai guru muda, ia berkolaborasi dengan frater misionaris Belanda membangun pendidikan bagi kaum muda di kawasan Danau Toba. Sejak dulu, pelajar datang dari berbagai daerah ke BTB karena alasan disiplin.

Bahkan, mereka juga mesti mengambil dua mata pelajaran agar mampu melayani pendidikan bagi para pelajar. Sumber data manusia dan fasilitas yang minim tak mengendurkan semangat mereka mencerdaskan anak bangsa.

“Pada zaman kami, masih banyak guru harus mengambil dua mata pelajaran karena ketersediaan guru masih minim. Dengan usaha maksimal, kita bisa melihat sekarang umur sekolah mencapai 70 tahun. Para alumni tersebar di seluruh nusantara hingga mancanegara,” sambungnya.

“Sebelum dies natasli ke-70 ini, kita juga sudah merayakan acara dies natalis ke-60. Saat itu, saya aktif sebagai alumni. Menariknya pada dies natalis kali ini, acara dan program akan difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan; guru dan pelajar,” tuturnya.

“Kita patut berterimakasih pada panitia dies natalis, guru, dan semua pihak atas inisiatif ini,” tuturnya.

Menurutnya, umur sekolah yang telah mencapai 70 tahun adalah gambaran konsistensi soal kedisiplinan dan kejujuran serta kemampuan menanggapi perkembangan zaman dengan bijak.

“Sejak dulu, sekolah kita ini dikenal dengan karakternya, disiplin. Sehingga, orang tua yang sederhana secara ekonomi pun memaksakan diri menyekolahkan anaknya ke BTB ini hanya demi disiplin anaknya,” sambungnya.

Baginya, penanaman kedisiplinan bagi pelajar adalah bagian penting pendidikan siswa/i BTB sejak dulu hingga saat ini.

“Guru dan kepala sekolah yang diisi frater dari Belanda akrab dengan karakter disiplinnya. Dan ini merupakan bagian penting pendidikan. Tidak cukup hanya pintar, namun memiliki karakter yang mumpuni,” terangnya.

“Ini sekaitan dengan kehadiran Katolik di Tano Batak ini. Pendidikan mesti disasar agar penanaman nilai-nilai kekatolikan itu semakin terasa. Tak cukup hanya di mimbar, dunia pendidikan sebagai penyemaian nilai-nilai kekatolikan amat penting,” terangnya.

Sosok yang dikenal murah hati dan susah marah ini menjadi ingatan manis bagus setiap alumni yang sempat mendapatkan pembelajaran matematika dari Asal Pangaribuan.

Hingga saat ini, ia juga masih sering ke SMA BTB karena selalu mendapatkan undangan manakala ada kegiatan sekolah. Selain itu, istrinya hingga saat ini masih aktif sebagai pendidik di BTB.

“Sejak guru, wakil kepala sekolah hingga menjadi kepala sekolah dan saat ini sebagai alumni. Saya mengajar matematika yang relatif jarang marah. Saya benar-benar menikmati sebagai guru. Tapi, lebih nikmat saat bertemu alumni. Saya hanya bersyukur bisa menjalani hidup sejak tahun 1969 hingga 2005 di BTB ini,” sambungnya.

Panggilan sebagai guru baginya adalah sebuah kenikmatan. Masa pensiunnya saat ini tak membuatnya kehilangan semangat. Bahkan, saat ini, ia lebih banyak bersyukur karena masih bisa bertemu dengan alumni BTB.

“Setelah pensiun, saya juga sering datang ke sekolah kita ini. Alasan pertama, istri masih mengajar di sini karena selisih umur 15 tahun. Kedua, setiap acara, saya juga sering diundang sekolah. Itu semua, saya benar-benar nikmati. Sederhana namun menggembirakan,” tuturnya.

“Hampir dua per tiga, hidup saya berkutat di sini. Sampai sekarang, saya masih sering ke sini. Enak menjadi guru di BTB ini,” lanjutnya.

Dies Natalis ke-70 BTB ini baginya adalah bagian penting dalam hidupnya. Sebelumnya, ia berkontribusi pada Dies Natalis ke-60 BTB. Untuk dies natalis kali ini, ia berharap alumni mesti lebih banyak berkontribusi demi peningkatan mutu pendidikan BTB.

Dies natalis ini akan diseleksi selama dua hari sejak Jumat (14/8/2026) hingga Sabtu (15/8/2026). Acara diselenggarakan di kompleks SMA BTB dan menghadirkan alumni, orang tua siswa, dan undangan lainnya. Semangat yang sudah terpatri sejak dulu, ia harapkan abadi. ( ** )

Keterangan Foto: Persiapan acara Dies Natalis ke-70 BTB tengah berlangsung. Acara tersebut akan berlangsung selama dua hari, tanggal 14-15 Agustus 2026 di kompleks BTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!