Pedagang Pasar Sidikalang Mengeluh, Atap Bocor Tak Kunjung Diperbaiki Meski Retribusi Lancar Dibayar

Oplus_16908288

Benhillpos.com | DAIRI – Di tengah derasnya hujan yang mengguyur Kota Sidikalang, air tak hanya jatuh dari langit. Dari celah-celah atap kios di Blok D4 Pusat Pasar Sidikalang, tetesan air turut mengalir membasahi harapan para pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari jualan martabak, gorengan, sayuran hingga bumbu dapur.

Pebri Chaniago, seorang pedagang martabak dan gorengan di pusat pasar tersebut, hanya bisa memandangi dagangannya yang basah dan lembab akibat bocornya atap kios yang hingga kini belum juga diperbaiki

Kondisi itu, menurutnya, sudah berlangsung sejak angin puting beliung menerjang kawasan pasar sekitar tiga minggu lalu.

“Kios yang terdampak ada dua kios bang,” ujar Pebri saat dikonfirmasi wartawan di lokasi jualannya Sabtu (23/05/2026).

Tak hanya lapak jualan yang terdampak, Pebri juga mengungkapkan bahwa gudang penyimpanan barang milik pedagang turut terkena rembesan air hujan. Akibatnya, sejumlah stok dagangan ikut basah dan rusak.

“Dampaknya sama juga ke kami bang, gudang penyimpanan barang yang kena,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Bagi para pedagang kecil, pasar bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.

Namun ironisnya, ketika hujan turun, mereka justru harus berjibaku menyelamatkan barang dagangan dari genangan dan tetesan air yang jatuh dari atap rusak.

Pebri mengaku, pemilik kios yang mereka tempati sudah dua kali melaporkan persoalan tersebut kepada pihak PD Pasar Kabupaten Dairi. Akan tetapi hingga kini, laporan itu disebut belum mendapat realisasi perbaikan.

Dengan nada kesal, Pebri menceritakan bahwa dirinya sempat bertemu salah seorang petugas PD Pasar Kabupaten Dairi di Pasar Sumbul pada Selasa (19/05/2026) lalu.

“Jumpa aku sama anggota PD Pasar. Kubilang lah seperti ini bang, gimana lapak kami di Pasar Sidikalang ini bang, saya bilang,” tuturnya.

Namun jawaban yang diterimanya justru menambah kegelisahan para pedagang. Menurut Pebri, petugas tersebut menyebut bahwa perbaikan atap membutuhkan biaya yang besar.

“Soalnya butuh biaya besar itu bang,” ucap Pebri menirukan perkataan petugas PD Pasar.

Di balik suara hujan dan kios yang basah, tersimpan rasa kecewa yang mendalam dari para pedagang.

Mereka merasa telah mengikuti aturan dan tetap rutin membayar kewajiban lapak tanpa pernah menunggak. Bahkan, mereka juga telah mematuhi arahan PD Pasar untuk tidak lagi berjualan di luar area pasar.

“Kalau masalah pembayaran lapak bang, rutin kami bayar, tidak pernah nunggak. Kami sebenarnya sudah ngalah bang. Kemarin kami di luar diusir petugas PD Pasar, katanya tidak boleh jualan di luar. Kami pindahlah ke sini. Tapi sementara yang jualan makanan di luar masih ada juga yang tidak pindah. Masa kami yang sudah ngalah, minta perbaikan atap saja hanya janji terus,” ungkapnya dengan nada kesal.

Keluhan tersebut menjadi gambaran kecil tentang perjuangan pedagang tradisional yang masih harus menghadapi minimnya perhatian terhadap fasilitas pasar.

Ketika mereka dituntut tertib dan taat aturan, mereka berharap pengelola pasar juga hadir memberi kepastian dan perlindungan terhadap tempat usaha yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Sementara itu, Direktur Utama PD Pasar Kabupaten Dairi, Lumpin Pangaribuan, saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon seluler pada Sabtu (23/05/2026), belum memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan. ( JS )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *