DAERAH  

Sumenep Gaduh! Mr. Ball, JBL, Lotus, Potree, Harmoni dan Warung Mami Bebas Beraksi, Operasi Sandiwara Polres Memalukan

Oplus_16908288

Benhillpos.com | Sumenep – Gelombang kemarahan publik di Sumenep terus memuncak. Pasca demonstrasi JASTRA menuntut penertiban, kondisi di lapangan justru menunjukkan ironi yang telanjang: tempat hiburan malam yang diduga sarang maksiat dan peredaran minuman keras tetap beroperasi seolah kebal hukum. Operasi yang digelar Polres Sumenep dan Satpol PP dianggap hanya sandiwara kosmetik—ramai-ramai datang, berpose di depan kamera, lalu pergi tanpa penindakan nyata.

Pantauan di lapangan memperlihatkan aktivitas yang mengejutkan: sejak siang hari, LC dan wanita penghibur mulai berdatangan ke sejumlah karaoke. Mereka terlihat siap menemani pria hidung belang di lokasi-lokasi yang selama ini disebut warga sebagai ladang maksiat terselubung. Semua berlangsung terbuka, tanpa rasa takut, seolah operasi aparat hanyalah formalitas belaka.

Nama-nama tempat hiburan kembali mencuat ke permukaan: Mr. Ball, JBL, Harmoni, Potree, Lotus Cafe, hingga Warung Mami di Talangan. Ironisnya, Warung Mami yang disebut-sebut menjadi agen miras terang-terangan tidak pernah tersentuh operasi.

Fenomena ini memperkuat persepsi publik bahwa razia miras hanyalah trik klasik untuk meredam kritik, bukan upaya serius menegakkan hukum.

Sorotan tajam jatuh pada Mr. Ball, yang menurut laporan masyarakat diduga kuat menjadi sarang dugem dan pesta malam favorit. Anehnya, setiap operasi datang, lokasi tersebut mendadak “bersih”, seolah tidak pernah ada aktivitas.

Warga bertanya-tanya: apakah aparat benar-benar tidak melihat, atau sengaja dibuat tidak melihat? Banyak yang menyebut situasi ini “lucu tapi menyakitkan”, karena fakta di lapangan selalu bertolak belakang dengan laporan resmi.

Di tengah keganjilan ini, muncul dugaan serius soal adanya setoran besar ke aparat, sehingga penegakan hukum terkesan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Meski belum terbukti, isu ini makin kuat karena minimnya tindakan tegas terhadap lokasi-lokasi yang berulang kali dipersoalkan publik. Banyak pihak menuntut perhatian pemerintah pusat, bukan sekadar penanganan di level daerah.
Direktur JASTRA, Hasyim Khu, meluapkan kemarahan publik:

“Ini sudah keterlaluan. Anak-anak muda diracuni miras dan dugem, sementara tempat maksiat dibiarkan nyaman. Aparat seolah takut atau tidak berdaya. Jika terus diam, kami siap turun langsung bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama.”

JASTRA menegaskan aksi mereka tidak berhenti pada satu demonstrasi. Mereka merencanakan aksi berjenjang, mulai dari Kantor Bupati hingga Mapolres Sumenep, menyebut langkah ini sebagai operasi moral, bukan sekadar simbolik.

Menurut Hasyim, banyak tempat hiburan yang seharusnya tutup pukul 02.00 WIB justru beroperasi hingga pagi bahkan siang hari, digunakan untuk pesta miras dan aktivitas terlarang lain. Fakta ini mencerminkan lemahnya pengawasan dan mandulnya penegakan Perda Ketertiban Umum.

Menanggapi sorotan ini, Kabid Ketenteraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Sumenep, Fajar, mengakui sebagian besar tempat hiburan malam memang tidak berizin.

“Ini menjadi perhatian kami dan akan menjadi dasar penertiban ke depan,” ujarnya.

Namun bagi JASTRA, pernyataan itu tidak lagi cukup. Mereka menuntut tindakan nyata:
Penutupan total tempat hiburan ilegal
Razia rutin tanpa tebang pilih
Pengusutan serius dugaan peredaran miras

Kini, persoalan hiburan malam di Sumenep menjadi ujian terbuka bagi aparat. Apakah hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu, atau terus kalah oleh lampu remang, kepentingan, dan dugaan perlindungan oknum tertentu? JASTRA menegaskan, mereka tidak akan berhenti sampai negara benar-benar hadir dan hukum ditegakkan secara adil. ( ** / HS )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *