Balige Writers Festival 2026 Sukses Digelar, Tiga Hari Merawat Literasi, Budaya, dan Masa Depan Danau Toba

Oplus_16908288

Benhillpos.com | BALIGE – Balige Writers Festival (BWF) 2026 sukses digelar selama tiga hari, mulai 30 Juli hingga 1 Agustus 2026, di Toba Art Space, Balige, Kabupaten Toba. Memasuki penyelenggaraan yang kelima, festival sastra pertama dan satu-satunya di Sumatera Utara ini kembali menjadi ruang perjumpaan para penulis, budayawan, akademisi, seniman, pelajar, komunitas, hingga masyarakat untuk bersama-sama merawat budaya melalui literasi.

Mengusung tema “Membaca Sumatera”, Balige Writers Festival tahun ini mengajak para peserta membaca kembali Sumatera melalui sejarah, budaya, lingkungan, hingga kehidupan masyarakat yang menjadi sumber lahirnya berbagai karya sastra. Tema tersebut juga menjadi refleksi atas berbagai peristiwa yang terjadi di Pulau Sumatera, termasuk bencana alam yang melanda sejumlah wilayah pada November 2025.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Kamis, 30 Juli 2026, dengan napak tilas ke kawasan Proyek Asahan dan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), termasuk Bendungan Siguragura. Kegiatan ini mengajak peserta melihat secara langsung sejarah pembangunan kawasan Danau Toba sekaligus mengenang kontribusi Dr. Bisuk Siahaan, tokoh nasional asal Batak yang dikenal sebagai insinyur, penulis, dan budayawan.

Pada hari pertama pula, Balige Writers Festival menghadirkan program BWF Goes to Schools sebagai upaya mendekatkan sastra kepada generasi muda. Para peserta diajak memahami bahwa budaya literasi harus tumbuh sejak usia sekolah agar lahir generasi yang mencintai membaca, menulis, dan memahami sejarah daerahnya sendiri.

Memasuki hari kedua, Jumat (31/7/2026), Balige Writers Festival menghadirkan agenda Tribute to Dr. Bisuk Siahaan. Dalam sesi tersebut, keluarga, budayawan, akademisi, serta para narasumber mengulas perjalanan hidup dan pemikiran Bisuk Siahaan, terutama melalui karya monumentalnya “Kehidupan di Balik Tembok Bambu”.

Pengurus Toba Gracia Raya sekaligus pendiri Balige Writers Festival, Tonggo Pardede, menjelaskan bahwa penghormatan terhadap Bisuk Siahaan diberikan karena pemikirannya masih sangat relevan dalam memahami kehidupan masyarakat Batak.

Menurutnya, buku “Kehidupan di Balik Tembok Bambu” memperlihatkan bagaimana lingkungan, adat, dan aturan kehidupan membentuk karakter masyarakat Batak. Nilai-nilai tersebut menjadi warisan yang penting untuk dikenalkan kembali kepada generasi muda agar tidak kehilangan akar budayanya.

Suasana haru juga terlihat ketika putri almarhum, Precilia Siahaan, hadir dalam acara tersebut. Ia mengaku sangat bersyukur dan terharu atas penghargaan yang diberikan kepada ayahnya.

Menurut Precilia, Bisuk Siahaan merupakan sosok yang sangat mencintai seni, musik, membaca, dan menulis. Ketertarikannya terhadap budaya Batak semakin kuat ketika tinggal di Amerika Serikat pada era 1990-an, di mana ia mulai melakukan berbagai penelitian mengenai sejarah dan kebudayaan Batak.

Ia berharap cita-cita ayahnya untuk menghadirkan perpustakaan yang menyimpan seluruh karya dan pemikirannya suatu hari nanti dapat diwujudkan di Kabupaten Toba sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Masih pada hari kedua, Balige Writers Festival meluncurkan antologi cerpen “Tak Ada Na Niarsik Sempurna Hari Ini”, hasil karya sembilan Emerging Writers dari berbagai daerah di Sumatera yang sebelumnya mengikuti kelas menulis kreatif bersama sastrawan nasional Benny Arnas.

Sembilan penulis tersebut berasal dari Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Aceh, Sumatera Selatan, hingga Kabupaten Toba. Mereka berhasil menyelesaikan karya dalam waktu singkat melalui program pembinaan yang difasilitasi Manajemen Talenta Nasional (MTN) Kementerian Kebudayaan.

Mentor kelas menulis kreatif, Benny Arnas, mengaku bangga atas keberhasilan seluruh peserta menyelesaikan karya mereka.

Menurutnya, Balige Writers Festival telah berkembang menjadi laboratorium sastra yang mampu melahirkan penulis-penulis baru dari Sumatera. Ia berharap pengalaman yang diperoleh para Emerging Writers menjadi bekal untuk terus berkarya serta menularkan semangat literasi di daerah masing-masing.

Selain meluncurkan antologi cerpen, Balige Writers Festival juga memperkenalkan empat buku cerita anak hasil karya guru-guru Kabupaten Toba. Karya tersebut mendapat apresiasi dari Bunda Literasi Kabupaten Toba, Ny. Astita Simanjuntak, yang berharap budaya membaca dan menulis terus berkembang sebagai bagian dari pelestarian budaya Batak Toba.

Hari ketiga, Sabtu (1/8/2026), diisi dengan berbagai diskusi kebudayaan, di antaranya pembahasan sastra Batak melalui syair lagu, workshop Aksara Batak, hingga diskusi panel mengenai masa depan Balige Writers Festival sebagai bagian dari penguatan budaya dan pariwisata Kabupaten Toba.

Dalam sesi dialog, perwakilan Kementerian Kebudayaan memberikan apresiasi terhadap konsistensi Balige Writers Festival yang telah memasuki tahun kelima. Mereka mendorong agar pemerintah daerah terus meningkatkan dukungan sehingga festival ini mampu menjangkau lebih banyak pelajar dan generasi muda.

Literasi dinilai tidak hanya melahirkan penulis, tetapi juga menjadi fondasi pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata. Oleh sebab itu, keterlibatan sekolah, komunitas, masyarakat, dan pemerintah menjadi faktor penting agar Balige Writers Festival semakin berkembang.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba, Rikardo Hutajulu, menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan Balige Writers Festival sebagai agenda budaya tahunan Kabupaten Toba. Ke depan, festival ini direncanakan berkolaborasi dengan Festival Ulos maupun festival budaya lainnya sehingga mampu menarik lebih banyak pengunjung dan memperkuat posisi Kabupaten Toba sebagai destinasi wisata budaya berbasis literasi.

Ketua Panitia Balige Writers Festival 2026, M. Tansiswo Siagian, menyebut penyelenggaraan tahun ini sebagai salah satu yang paling membanggakan sepanjang sejarah BWF.

Menurutnya, selain menghadirkan penulis dari berbagai daerah di Indonesia, Balige Writers Festival tahun ini berhasil mencetak sejarah dengan lahirnya tiga penulis muda asal Kabupaten Toba melalui program Emerging Writers.

“Yang paling menggembirakan bagi kami adalah lahirnya tiga penulis muda dari Toba. Selama empat tahun penyelenggaraan sebelumnya belum pernah ada penulis baru dari Toba yang lahir melalui program ini. Tahun ini akhirnya ada tiga orang, dan itu menjadi kebanggaan besar bagi kami,” ujar Tansiswo.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut menjadi bukti tumbuhnya semangat literasi di Kabupaten Toba. Menurutnya, Toba memiliki sejarah, budaya, dan kekayaan cerita yang luar biasa untuk terus ditulis dan diperkenalkan kepada Indonesia maupun dunia.

“Toba memiliki potensi yang luar biasa untuk ditulis. Balige dan Kabupaten Toba memiliki sejarah yang sangat kaya, budaya yang kuat, serta banyak cerita yang masih perlu digali dan didokumentasikan. Karena itu, kami berharap semakin banyak penulis yang datang ke Toba, belajar di sini, lalu menulis tentang Toba,” katanya.

Tansiswo juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Toba dan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) yang selama ini terus memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Balige Writers Festival.

Ia berharap pada penyelenggaraan Balige Writers Festival ke-6 tahun 2027, festival ini dapat berlangsung lebih besar dengan menghadirkan lebih banyak penulis dari seluruh Nusantara.

“Kami berharap Balige Writers Festival tahun depan akan lebih baik lagi, menghadirkan lebih banyak penulis dari seluruh Nusantara sehingga semakin banyak karya yang lahir tentang Toba, Balige, dan kawasan Danau Toba. Dengan begitu, daerah ini akan semakin dikenal melalui literasi,” ujarnya.

Sementara itu, Pendiri Balige Writers Festival, Nestor Rico Tambun, menegaskan bahwa keberlangsungan festival selama lima tahun terakhir tidak terlepas dari dedikasi para relawan yang bekerja tanpa pamrih.

Menurutnya, Balige Writers Festival kini telah menjadi bagian dari agenda sastra nasional dan mulai mendapat pengakuan dari berbagai kalangan. Namun, agar festival terus berkembang, diperlukan dukungan yang lebih terencana dari pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan.

Selama tiga hari penyelenggaraan, Balige Writers Festival 2026 tidak hanya menghadirkan diskusi, peluncuran buku, workshop, dan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang lahirnya penulis-penulis baru, mempertemukan gagasan lintas daerah, serta memperkuat keyakinan bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam menjaga budaya, membangun identitas daerah, dan memperkenalkan Danau Toba kepada Indonesia bahkan dunia.

Memasuki usia penyelenggaraan yang kelima, Balige Writers Festival semakin menunjukkan perannya sebagai ruang belajar, ruang berkarya, dan ruang kolaborasi bagi seluruh pegiat literasi. Harapannya, festival ini tidak hanya terus melahirkan penulis-penulis baru, tetapi juga menjadi gerakan bersama yang menghidupkan budaya membaca, menulis, dan mencintai warisan budaya Batak bagi generasi yang akan datang. ( ** )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!