Benhillpos.com | TARUTUNG – Dua sungai besar yang berasal dari Sipirok dan Tarutung menjadi sumber air Sungai Aek Puli, Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara. Banjir bandang yang menimpa warga sekitar pernah terjadi pada tahun 1976.
Seorang nenek bernama Tiolan Hutabarat (67) mengisahkan, jembatan Aek Puli tersebut yang ia dapati setelah menikah dengan suaminya adalah bangunan milik TNI. Awalnya bangunan jembatan tersebut tidak memiliki tiang tengah sebagai penyangga.
Tepat pada tahun 1976, air sungai meluap namun tidak setinggi banjir bandang yang terjadi pada Selasa (25/11/2025) lalu.
Saat itu, jembatan tersebut putus total. Ia tak sanggup menceritakan lebih lanjut karena seluruh peristiwa tersebut adalah luka mendalam baginya.
Tepat pada Selasa (25/11/2025), ia sontak terdiam setelah mengetahui banjir bandang di Sungai Aek Puli tersebut. Kediamannya berjarak 150 meter dari jembatan sungai. Kini, kejadian lama terngiang.
“Banjirnya tidak seperti ini tingginya. Yang pasti waktu itu jembatan terputus sehingga akses masyarakat putus total. Itu kejadiannya bulan Agustus 1976,” tutur Tiolan Hutabarat (67), Kamis (27/11/2025) malam.
Begitu mendengar ada banjir bandang, ia hanya bisa terdiam dan tak mau mendekat ke jembatan. Ia tak sanggup, seakan ingatan tahun 1976 muncul kembali.
Akibat pengalaman tersebut, ia benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh korban banjir bandang. Di lokasi, sungai tersebut dibatasi oleh beronjong kawat. Diperkirakan ketinggian air mencapai 4 hingga 5 meter.
Warga sontak berhamburan saat kejadian. Sejak pagi hari, air sudah mulai naik dan sebuah pohon di ujung jembatan Aek Puli yang lama. roboh.
Perlahan, sebagian masyarakat sudah mengemasi barang-barangnya. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa tidak mungkin ada banjir bandang. Setelah menjelang sore, tepatnya di pukul 15.00 WIB, air semakin tinggi. Gelondongan kayu tertambat di tiang tengah penyangga jembatan.
“Sore hari, warga sekitar berhamburan dan mereka mendekat ke areal rumah kita ini,” ujarnya.
Kini, rumahnya menjadi tempat masyarakat terdampak mengungsi. Rumah yang berada di seberang jalan menjadi dapur umum.
“Banjir kali ini sangat besar. Ada rumah warga yang hanyut oleh luapan aliran sungai. Sebagian badan rumah juga dihantam banjir dan terbawa aliran sungai,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan, bukan hanya rumah warga yang terdampak, kawasan perladangan dan makam umum juga terdampak.
“Kemarin, aku sampaikan banjir bandang ini sama anak-anak, mereka bilang agar saya tetap tegar. Kita serahkan semuanya kepada Tuhan,” terangnya.
Ada sebanyak 6 rumah yang sebagian bangunannya terseret arus sungai. Sementara rumah lainnya dipenuhi lumpur. Gelondongan kayu pun tertambat di depan pintu rumah yang berdekatan dengan sungai. Beronjong pembatas sungai dan rumah warga amblas.
Kemarin, Kamis (27/11/2025), air Sungai Aek Puli secara berangsur surut. Namun, air sungai tersebut masih keruh.
“Sudah mulai surut airnya. Tapi korban masih mengungsi di rumah keluarganya. Termasuk rumah kita ini jadi tempat saudara kita yang jadi korban,” sambungnya.
Bantuan ke dapur umum secara berangsur datang dari berbagai pihak. Kaum ibu terlihat mengambil peran masing-masing menyiapkan makanan bagi korban bencana alam. ( ** )
















