Benhillpos.com | SIDIKALANG – Aula Kantor Petrasa Kabupaten Dairi di Jalan Makam Pahlawan, Kecamatan Sidikalang, dipenuhi puluhan masyarakat dari berbagai kalangan dalam kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi, Senin (18/05/2026).
Kegiatan yang berlangsung sederhana itu justru menghadirkan suasana diskusi yang hangat, emosional, dan penuh refleksi terhadap kondisi lingkungan yang terjadi di Kabupaten Dairi.
Aktivis, mahasiswa, pegiat lingkungan, hingga masyarakat umum duduk bersama menyaksikan film dokumenter yang mengangkat persoalan eksploitasi alam dan ketimpangan sosial di tengah masyarakat.
Di dalam aula yang dipenuhi cahaya proyektor itu, suasana hening menyelimuti para peserta ketika adegan demi adegan mulai diputar.
Film Pesta Babi menggambarkan bagaimana alam perlahan kehilangan maknanya akibat kerakusan manusia.
Hutan yang semestinya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi objek eksploitasi.
Sungai-sungai tercemar, pepohonan ditebang, dan masyarakat kecil digambarkan sebagai pihak yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan.
Dalam dokumenter tersebut, istilah “pesta babi” menjadi simbol atas kerakusan kekuasaan dan kepentingan ekonomi yang dianggap mengorbankan alam dan kehidupan masyarakat.
Film itu juga menampilkan bagaimana suara masyarakat sering kali kalah oleh kepentingan modal dan proyek-proyek besar yang masuk ke wilayah-wilayah pedesaan.
Bagi sebagian peserta nobar, cerita dalam film itu terasa dekat dengan kondisi yang tengah dihadapi masyarakat Kabupaten Dairi saat ini.
Persoalan dugaan perambahan hutan, kerusakan lingkungan, hingga aktivitas perusahaan tambang menjadi topik yang paling banyak diperbincangkan dalam sesi diskusi usai pemutaran film.
Dalam forum diskusi tersebut, beberapa peserta menyoroti kondisi hutan di Kabupaten Dairi yang dinilai semakin memprihatinkan akibat aktivitas pembukaan lahan dan dugaan perambahan kawasan hutan yang terus terjadi. Mereka mengaku khawatir apabila kondisi tersebut terus dibiarkan tanpa pengawasan serius dari pemerintah.
Selain isu perambahan hutan, nama perusahaan tambang PT Dairi Prima Mineral (PT DPM) juga turut menjadi perhatian para peserta.
Sejumlah masyarakat menyampaikan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang aktivitas pertambangan terhadap lingkungan hidup dan kehidupan masyarakat sekitar.
Aktivis mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Dairi, Andi Silalahi, mengatakan bahwa film dokumenter tersebut menjadi bentuk kritik sosial yang relevan dengan situasi lingkungan saat ini.
Menurutnya, persoalan lingkungan bukan lagi isu kecil yang bisa diabaikan. Ia menilai kerusakan alam akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama generasi muda di masa depan.
“Film ini membuka mata kita bahwa ketika alam mulai rusak, masyarakat kecil menjadi pihak pertama yang merasakan penderitaan. Hutan bukan sekadar pohon, tetapi sumber kehidupan. Karena itu mahasiswa harus tetap bersuara dan berpihak kepada rakyat serta lingkungan,” ujar Andi Silalahi dalam diskusi tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keberlangsungan lingkungan hidup di Kabupaten Dairi agar tidak semakin rusak akibat kepentingan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam.
Suasana diskusi berlangsung cukup emosional. Beberapa peserta terlihat geram ketika membahas dugaan keterlibatan oknum-oknum tertentu dalam aktivitas yang dianggap merusak kawasan hutan.
Namun di sisi lain, kegiatan tersebut juga menghadirkan semangat solidaritas antar masyarakat untuk lebih peduli terhadap persoalan lingkungan.
Nobar film dokumenter Pesta Babi akhirnya ditutup dengan harapan agar masyarakat tidak kehilangan keberanian untuk menyuarakan persoalan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Dairi.
Para peserta berharap ruang-ruang diskusi publik seperti ini terus hadir sebagai sarana pendidikan, kritik sosial, dan penguatan kesadaran bersama dalam menjaga alam serta masa depan generasi mendatang. (JS).
















