Film Dokumenter MEJAN: Menjaga Mejan, Menjaga Pakpak Ungkap Jejak Kepemimpinan dan Identitas Suku Pakpak

Oplus_16908288

Benhillpos.com | SALAK/SIDIKALANG — Film dokumenter MEJAN: Menjaga Mejan, Menjaga Pakpak didiseminasikan melalui kegiatan pemutaran film, nonton bareng, dan diskusi yang digelar di dua wilayah Kabupaten Pakpak Bharat dan Kabupaten Dairi pada 14–15 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dana Indonesiana 2025 yang didukung sepenuhnya oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan LPDP, sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap karya budaya sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya Pakpak.

Penerima manfaat sekaligus penggagas produksi film, Ikram Angkat, mengatakan produksi film dokumenter tersebut telah dimulai sejak April 2026. Film ini secara khusus mengangkat Mejan, sebuah peninggalan budaya yang memiliki posisi penting dalam sejarah kehidupan masyarakat Suku Pakpak.

Mejan tidak sekadar dipandang sebagai artefak atau patung batu. Dalam tradisi Pakpak, Mejan merupakan salah satu simbol kepemimpinan yang berkaitan erat dengan keberadaan marga dan kampung atau Lebbuh. Jejak keberadaannya tersebar di lima Suak Pakpak, yakni Keppas, Pegagan, Simsim, Kelasen, dan Boang, yang masing-masing memiliki karakter budaya dan dialek khas.

“Kondisi Mejan di lima Suak sangat beragam. Ada yang masih terpelihara, tetapi ada juga yang sudah sangat langka ditemukan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting mengapa dokumentasi dan penggalian informasi tentang Mejan perlu dilakukan sekarang, sebelum semakin banyak pengetahuan yang hilang,” ujar Ikram.

Dalam proses produksinya, tim film melakukan penelusuran dan wawancara dengan sekitar 20 narasumber yang berasal dari berbagai latar belakang. Mereka terdiri atas akademisi, praktisi budaya, aparat desa, hingga keturunan dari marga pemilik Mejan.

Penelusuran tidak hanya dilakukan melalui wawancara. Tim bersama masyarakat juga melakukan penggalian di sekitar Sungai Lae Simbellin, Kelurahan Sidiangkat, dan menemukan sejumlah pecahan Mejan yang telah lama teronggok di sekitar area perladangan.

Temuan tersebut semakin memperlihatkan bahwa keberadaan Mejan tidak dapat dipisahkan dari perubahan kehidupan masyarakat dan kondisi lingkungan sosial tempat warisan budaya itu berada.

Film dokumenter berdurasi sekitar 40 menit tersebut memberikan gambaran mengenai posisi vital Mejan dalam kehidupan masyarakat Pakpak. Selain sebagai simbol kepemimpinan, Mejan juga memiliki fungsi sebagai lambang identitas marga dan penanda wilayah.

Pada masa lalu, satu marga dapat terdiri dari beberapa kampung atau Lebbuh. Setiap Lebbuh memiliki Mejan. Dengan demikian, keberadaan Mejan secara tidak langsung juga menjadi penanda terhadap tanah ulayat dan ruang hidup suatu marga.

Makna tersebut membuat Mejan tidak hanya penting dari sisi seni dan sejarah, tetapi juga berkaitan dengan ingatan kolektif, identitas, serta hubungan masyarakat Pakpak dengan tanah dan leluhurnya.

Namun, perkembangan zaman membawa perubahan besar terhadap keberadaan Mejan. Modernisasi, perubahan pola kehidupan, pengaruh agama, serta semakin berkurangnya perhatian terhadap peninggalan budaya membuat keberadaan Mejan semakin terpinggirkan. Tidak sedikit Mejan yang mengalami kerusakan, berpindah tempat, bahkan hanya menyisakan pecahan yang sulit dikenali.

Melalui film ini, Ikram dan tim berupaya menghadirkan kembali cerita mengenai Mejan kepada generasi hari ini. Dokumentasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai karya audiovisual, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kembali kesadaran masyarakat bahwa warisan budaya memiliki nilai sejarah dan identitas yang penting untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kami berharap film ini dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali mengenal Mejan dan memahami bahwa di balik sebuah batu atau patung terdapat sejarah panjang mengenai kepemimpinan, marga, kampung, identitas, dan ruang hidup masyarakat Pakpak,” kata Ikram.

Kegiatan diseminasi dilaksanakan di dua wilayah yang memiliki keterkaitan kuat dengan kebudayaan Pakpak. Pemutaran pertama berlangsung di Gedung Serbaguna Kota Salak, Kabupaten Pakpak Bharat, Suak Simsim, pada 14 Agustus 2026. Sehari berikutnya, kegiatan dilanjutkan di Gedung Nasional Djauli Manik, Sidikalang, Kabupaten Dairi, Suak Keppas, pada 15 Agustus 2026.

Kegiatan dihadiri oleh pelajar, pemuda, masyarakat, serta pemerhati budaya. Setelah pemutaran film, peserta mengikuti sesi diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber yang terlibat dalam proses pembuatan film, yaitu Atur Pandapotan Solin, Melisa Padang, dan Ahmad Z Ujung.

Diskusi menjadi ruang bagi peserta untuk menggali lebih jauh proses produksi, nilai sejarah Mejan, kondisi peninggalan Mejan saat ini, hingga tantangan pelestariannya di tengah perubahan sosial dan budaya.

Antusiasme peserta juga menunjukkan bahwa isu pelestarian Mejan masih memiliki ruang yang kuat untuk dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda. Film dokumenter ini diharapkan dapat menjadi media untuk mempertemukan pengetahuan dari para tetua dan pemilik warisan budaya dengan generasi yang akan meneruskan keberadaan kebudayaan Pakpak. Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemudan dan Olahraga Kabupaten Dairi Iwan Taruna Berutu mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, hal ini merupakan langkah tepat mengenalkan Mejan sebagai bagian penting budaya Pakpak kepada generasi muda.

Bagi tim produksi, dokumentasi Mejan merupakan langkah awal untuk menjaga agar pengetahuan mengenai warisan tersebut tidak ikut hilang bersama semakin berkurangnya keberadaan fisiknya.

MEJAN: Menjaga Mejan, Menjaga Pakpak pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang sebuah patung batu, tetapi tentang ingatan, kepemimpinan, identitas, tanah ulayat, dan hubungan masyarakat Pakpak dengan sejarah leluhurnya.

Melalui film dan ruang diskusi yang dibangun, pesan yang ingin disampaikan menjadi semakin jelas: ketika sebuah warisan budaya hilang tanpa dokumentasi dan tanpa pengetahuan yang diwariskan, yang hilang bukan hanya benda, tetapi juga bagian dari cerita tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. (JS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!