Pemutaran Film Dokumenter “Pesta Babi” di Sidikalang Siap Jadi Ruang Dialog Publik yang Kritis dan Edukatif

Oplus_16908288

Benhillpos.com | SIDIKALANG – Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap isu lingkungan, masyarakat adat, dan hak-hak sosial, sebuah kegiatan pemutaran film dokumenter bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” akan digelar di Sidikalang pada Senin, 18 Mei 2026.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk nonton bareng (nobar) dan diskusi publik tersebut dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 WIB di Sopo Sahat Martua, tepat di samping Kantor PETRASA, dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat.

Ketua PETRASA Kabupaten Dairi, Duat Sihombing, mengatakan bahwa film dokumenter tersebut mengangkat berbagai realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat modern, khususnya menyangkut persoalan lingkungan, identitas budaya, serta dampak pembangunan terhadap kehidupan masyarakat adat.

Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang menonton bersama, tetapi juga diharapkan menjadi ruang bertukar pikiran secara terbuka, dewasa, dan intelektual.

“Melalui forum diskusi ini, peserta diharapkan dapat memahami berbagai sudut pandang secara lebih luas tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan serta penghormatan terhadap perbedaan pendapat,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut mendapat perhatian karena melibatkan sejumlah organisasi dan komunitas yang selama ini aktif dalam isu lingkungan dan sosial.

Kehadiran berbagai elemen masyarakat dinilai akan memperkaya jalannya diskusi sekaligus membangun budaya dialog yang sehat dalam kehidupan demokrasi.

Di era digital saat ini, ruang-ruang diskusi publik dianggap semakin penting untuk menjaga kesadaran sosial masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitar mereka.

Selain sebagai media visual, film dokumenter juga dinilai memiliki peran sebagai sarana pendidikan publik yang mampu menggugah kesadaran, membuka perspektif baru, dan menghadirkan refleksi mendalam terhadap realitas kehidupan sosial masyarakat.

Dengan suasana yang diperkirakan berlangsung penuh antusiasme, masyarakat diajak hadir bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk mendengar, memahami, dan membangun percakapan yang bernilai bagi kehidupan bersama.

“Forum yang baik bukanlah tempat semua orang harus sepakat, melainkan tempat setiap orang dapat berbicara dengan hormat dan didengar dengan bijaksana,” tutupnya. (JS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *