Benhillpos.com | DAIRI – Jeritan warga Desa Sinar Pagi, Kecamatan Tanah Pinem, akhirnya sampai ke meja Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi. Rabu (13/05/2026), sejumlah perwakilan masyarakat yang tergabung dalam organisasi perempuan mendatangi kantor Dinas Kesehatan untuk menyampaikan langsung keresahan yang selama ini mereka rasakan: hampir dua tahun desa mereka hidup tanpa tenaga bidan tetap.
Audiensi yang sedianya dijadwalkan bersama Kepala Dinas Kesehatan itu akhirnya diterima oleh Kabid Pelayanan Kesehatan Setyawati Br. Ginting, Kepala Puskesmas Kuta Buluh Rismanto Berutu, serta Melva E.J.S selaku Kepala Sub Bagian Umum.
Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan bahwa kekosongan tenaga kesehatan bukan lagi persoalan administratif biasa, melainkan telah menjadi masalah kemanusiaan yang berdampak langsung pada keselamatan masyarakat, khususnya ibu hamil, balita, lansia, dan warga yang membutuhkan layanan kesehatan dasar.
Basaria Situmorang mengungkapkan, selama ini warga harus menempuh perjalanan jauh dengan kondisi jalan yang sulit demi mendapatkan pelayanan kesehatan. Bahkan untuk sekali perjalanan menuju Pardomuan, warga harus mengeluarkan ongkos ojek hingga Rp80 ribu. Jika pulang-pergi, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp160 ribu, belum termasuk biaya pengobatan dan kebutuhan lainnya.
“Dalam kondisi darurat, masyarakat sering kesulitan mendapatkan penanganan medis dengan cepat. Ini bukan hanya soal jarak, tetapi soal keselamatan warga,” ungkap Basaria.
Keluhan serupa juga disampaikan Layasna Berutu yang menilai kondisi tersebut sangat memprihatinkan di tengah usia kemerdekaan Indonesia yang telah mencapai 81 tahun.
“Indonesia sudah merdeka puluhan tahun, tapi kami di Desa Sinar Pagi belum benar-benar merasakan kemerdekaan itu, terutama dalam pelayanan kesehatan,” ujarnya dengan nada kecewa.
Menurut Layasna, warga sebenarnya telah menyampaikan permohonan kepada Dinas Kesehatan sejak dua tahun lalu agar desa mereka memiliki bidan tetap. Namun hingga kini, pelayanan kesehatan hanya sesekali dilakukan melalui kegiatan posyandu yang bahkan tidak berjalan rutin.
Padahal, kata dia, banyak balita dan ibu yang membutuhkan pemantauan kesehatan secara berkala.
Dalam audiensi tersebut, masyarakat menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Dairi, di antaranya meminta agar tenaga bidan tetap segera ditempatkan di Desa Sinar Pagi, menjamin keberlangsungan pelayanan kesehatan dasar, memperhatikan kesehatan ibu dan anak, hingga menghadirkan langkah konkret terkait akses pelayanan kesehatan di wilayah terpencil tersebut.
Warga juga meminta pemerintah tidak lagi hanya memberikan janji tanpa kepastian waktu.
Rikayani Sihombing menegaskan bahwa kekosongan bidan selama hampir dua tahun menunjukkan lemahnya perhatian terhadap masyarakat di daerah terpencil.
“Pemerintah seharusnya memprioritaskan desa-desa terpencil untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Jangan sampai masyarakat terus dibiarkan menghadapi keadaan ini sendiri,” tegasnya.
Menanggapi tuntutan warga, Kepala Puskesmas Kuta Buluh menyampaikan bahwa pihaknya telah menghubungi calon tenaga bidan yang akan ditempatkan di Desa Sinar Pagi dan saat ini sedang dalam proses pengurusan administrasi.
Sementara itu, pihak Dinas Kesehatan melalui Kepala Sub Bagian Umum menyebut keluhan masyarakat akan segera disampaikan kepada pimpinan dan pengadaan bidan akan dipercepat, meski belum dapat memastikan waktu penempatannya.
Bagi warga Desa Sinar Pagi, pelayanan kesehatan bukan sekadar program pemerintah, melainkan hak dasar yang seharusnya hadir tanpa harus diperjuangkan berulang kali.
Kini masyarakat hanya berharap satu hal sederhana, agar suara mereka kali ini benar-benar didengar, dan tidak kembali hilang di antara tumpukan janji birokrasi. ( JS ).
















